Tag Archives: filsafat

Last updated by at .

Cipta Rasa Karsa: wujud keberadaannya secara umum

Posting kali ini merupakan kelanjutan dari posting sebelumnya tentang istilah-istilah yang terkait dengan cipta, rasa dan karsa.

Kita sebagai manusia merupakan ciptaan Tuhan YME yang memiliki derajad paling tinggi diantara semua ciptaanNya di dunia ini, demikianlah yang disebut dalam kitab-kitab Agama yang dibawa oleh para Rosulnya.

Namun kita wajib untuk mengetahuinya tentang pernyataan dalam kitab-kitab Agama dengan mengkaji pada diri kita sendiri. Sudah barang tentu sulit mengkaji diri sendiri, dan bahkan lebih gampang mengkaji diri orang lain. Itulah kenyataan hidup bahwa, mengomentari diri orang lain lebih mudah daripada mengomentari diri sendiri.

Mengapa demikian ?

Saya dapat menjawab secara sederhana, karena mengomentari orang lain ada dua hal yang berbeda yaitu si komentator dan si obyek merupakan dua wujud manusia yang berbeda. Sehingga dengan mudah membaca, mengkaji, menganalisa, bahkan memberikan kesimpulan, karena obyeknya memang benar-benar nyata berada diluar para si komentator.

Lain halnya dengan mengkaji diri sendiri, si komentator dan si obyek berada dalam fisik yang sama yaitu diri kita sendiri. Sudah barang tentu sangat-sangatlah sulit untuk dilakukan karena keduanya lekat dalam diri. Menjadi gampang bila dilakukan, diamati, dikaji hikmah-hikmah yang terjadi. Dengan demikian maka akan terlihat dan dapat dinyatakan dalam diri, bahwa terdapat dua bagian yang kasat mata yaitu si komentator dan si obyek. Sudah barang tentu si komentator kedudukannya lebih tinggi dari si obyek.

Agar tidak melenceng kemana-mana, saya akan kembali ke topik utamanya yang amat penting yaitu Cipta Rasa Karsa wujud keberadaannya secara umum. Saya katakan secara umum, karena sudah barang tentu Manusia Dewasa semuanya akan dapat merasakannya dan dapat denga mudah ditelaah penomenanya.

Agar lebih mudah dipahami tentang wujud keberadaan Cipta Rasa dan Karsa secara umum, digambarkan wujud manusia dimana bagian-bagiannya merupakan perlambang keberadaan Cipta Rasa Karsa itu sendiri. Dalam gambar wujud fisik manusia dapat dibagi menjadi 3 bagian secara umum yaitu:

  1. Kepala
  2. Dada
  3. Tangan dan Kaki.

Bagian-bagian ini merupakan perlambang secara fisik dari keberadaan Cipta Rasa dan Karsa tersebut. Sudah barang tentu, cipta rasa dan karsa ini bersemayam secara kasat mata dalam tiga bagian tersebut diatas. Dengan demikian sebenarnya Cipta Rasa dan Karsa adalah bukan materi akan tetapi non-materi yang bersemayam dalam materi.

Namun perwujudan sesungguhnya manusia itu sendiri hanya  mengetahui secara penomena atau dalam bentuk gejala-gejala  yang pada akhirnya bisa dinyatakan oleh si pelaku kehidupan itu sendiri. Artinya keberadaan cipta rasa karsa itu keberadaannya terbalut atau terbungkus oleh badan kasar kita. Untuk mengetahui keberadaannya, tentunya kita harus melakukan laku kehidupan secara nyata tanpa ada paksaan atau bahasa arabnya ikhlas, agar keberadaan dari cipta rasa dan karsa tersebut tergelar atau kawedar sesuai dengan kenyataan sesungguhnya.

Jika dilakukan secara sadar dengan landasan keikhlasan, maka keberadaannya akan tergelar secara apa-adanya, sebaliknya jika dipaksakan akan muncul cipta rasa karsa yang memiliki distorsi sehingga sulit dan bingung membedakan ketiganya. Akhirnya akan memunculkan perilaku yang berakhir dengan perilaku “ada-apanya”, bukannya perilaku “apa-adanya”.

Cipta

Pernahkah anda berangan-angan ?

Tahukah anda dari mana, dimana dan bagaimana  angan-angan anda mulai muncul ?. Ini adalah suatu pernyataan berat yang harus dijawab, padahal anda setiap hari boleh dikatakan bergelimang dengan angan-angan tanpa anda sadari sendiri, tiba-tiba muncul dalam diri anda.

Itulah awal dari sebuah kekuatan hidup dari Cipta, terbukti cipta memiliki hidup dan memiliki kehidupan sendiri. Setiap manusia bisa beragam kondisi kemunculannya bisa mucul tanpa disadari, disadari namun dianggap biasa, disadari  dengan penuh kehati-hatian, disadari dengan pengkajian yang mendalam atau tangapan-tanggapan lainnya.

Pernahkah anda berpikir ?

Sebenarnya proses berpikir biasanya diawali dengan berangan-angan, atau terbesit sebuah gambaran dalam pikiran anda untuk dilanjutkan dengan proses berpikir. Sudah barang tentu proses berpikir haruslah anda sadari, karena proses tersebut adalah proses yang harus dilalui dan wahananya melalui otak yang ada dikepala kita.

Suatu pertanyaan berat jika dialamatkan sebuah pertanyaan sebenarnya proses berpikir itu dimulai dari mana ?. Banyak kalangan orang tidak menyadari tentang proses berpikir yang dialaminya. Sehingga seakan secara tiba-tiba berpikir begitu saja. Atau bahkan selain tidak menyadarinya proses berpikir yang timbul kemudian dilanjutkan dengan aksi untuk mengakualisasi proses berpikir yang timbul, baik secara oral maupun secara tidak-laku.

Dalam penggambaran kali ini adalah wujud keberadaan cipta pada umumnya secara nyata dapat dikatakan berada pada otak di kepala manusia. Otak mendapatkan sensor motorik melalui panca-indera yang terhubung kepada otak dikepala kita. Saya katakan sebagai sensor motorik karena bekerja secara penomena fisik, yaitu Mata, Telinga, Hidung dan Mulut. Secara nya terdapat 4 macam sensor motorik di kepala kita.

Dari penjelasan diatas, artinya kita akan dapat melakukan proses cipta yang diawali dengan angan-angan, kemudian dilanjutkan dengan proses berpikir, dan pada akhirnya adalah proses tindak-laku secara nyata yang dilakukan oleh Kaki dan tangan kita sendiri (Karsa).

Rasa

Dalam penjelasan gambar diatas, rasa bersemayam dalam dada manusia. Sebagian orang mengatakan dalam hati manusia. Namun manusia yang mengalami patah-hati, akan mengatakan  “sakit hatiku, rasanya hidup seperti tak bermakna” atau kata-kata lainnya. Jika diminta ditunjukkan bukanlah hati yang ditunjukkan melainkan dada di sebelah kiri yaitu “jantung kita”. Sampai sekarang masih dikatakan sebagai hati namun yang dirasakan ada dijantung. Rasa juga merupakan hal yang kasat mata, menurut pengalaman saya itu bersemayam dalam dada yang bekerja tanpa dapat kita kendalikan alias bekerja secara independent dan rutin (bagi orang awam) seperti: Hati, Jantung, Alat-alat Pencernaan, semuanya berada dalam rongga dada. Inilah suatu hikmah penggambaran tentang hidup yang oleh Tuhan YME diperintahkan harus dikaji makna yang sesungguhnya.

 

… masih akan dilanjutkan

Posted in filsafat | Tagged , | Leave a comment

Berperilaku Takwa

Hari ini adalah hari masuk dalam hitungan hari  Jum’at,  Jam 00.58 WIB, 02 Maret 2012. Aku terbangun untuk menulis sebuah coretan yang tergelar dari hati sanubariku.

Dalam peralihan antara sadar dan tidak sadar, aku berguman hidup ini sebenarnya mencari apa, untuk apa, dan mengapa kita diberi hidup dan berkehidupan dalam dunia ini. Kalau kita hanya memenuhi hasrat hidup dengan mencari penghidupan melalui berbagai cara untuk pemenuhan hasrat itu semua, tidak akan pernah ada akhir kepuasan yang telah pernah dicapainya. Pada umumnya manusia banyak tertuju untuk memenuhi semua hasrat keduniawian seperti mencari Kekayaan duniawi, Kedudukan duniawi, Pengakuan duniawi dan lain sebagainya yaitu semua  hal yang berbau materialistik. Untuk mendapatkan semua tujuannya, segala daya upaya dilakukan, mulai hal yang paling mudah sampai kepada hal yang paling rumit. Atau bahkan termasuk membangun kelompok-kelompok kepentingan harus dilakukan, agar cara-cara pemenuhan hasrat duniawi bisa diatur dengan mudah, karena pada jaman ini manusia banyak terjerat dengan “Pendapat mayoritas adalah sebuah kebenaran”.

Manusia didunia ini oleh Tuhan YME, diberi kewenangan untuk memilih apa-apa yang akan dijalaninya. Semua jalan yang akan dituju selalu akan berpasangan, yaitu kekiri atau kekanan. Manusia pada umumnya enggan untuk mundur kebelakang, karena kaki kita lebih nyaman untuk dilangkahkan kearah depan. Ini merupakan sebuah perlambang, bahwa dalam melangkahkan kaki haruslah kita berpikir secara jernih apa-apa yang akan kita pilih sebagai langkah menuju kedepan kita. Sebab kalau salah memilih, pasti akan enggan melangkah mundur, sementara semakin melangkah akan semakin banyak membuat kesalahan. Itulah hidup didunia, karena hidup didunia ini adalah sebagai wujud dari “Sang Pengembara” menapak mencari jalan untuk menemukan dimana kita berasal.

Kembali kepada pilihan didalam melangkahkan hidup, saya lebih suka menggambarkan dengan analogi seorang pengembara yang mencari sebuah rumah yang dahulu  pernah ditinggalinya. Sang pengembara hanya berbekal kepada satu tanda-tanda fisik yang ia ingat yaitu wujud atau bentuk rumahnya. Selanjutnya sang pengembara bertanya kepada orang pertama yang ditemuinya, setelah diberi petunjuk dijalani petunjuk tadi dengan harapan dapat langsung menemukan rumah yang dimaksud. Dengan kecewa ternyata rumah yang dicari tidak dapat ditemukannya, karena bentuk rumah yang ditemuinya tidak sesuai dengan tanda-tanda yang diingatnya.

Dicobalah bertanya kepada orang kedua yang ditemuinya dengan harapan akan berhasil ditemukannya. Juga atas petunjuknya dilakukan upaya pencarian sebagai wujud usaha keras yang harus dlakukannya, alhasil rumah yang yang dijumpainya tidak seratus persen sama dengan tanda-tanda fisik yang diingatnya. Karena tidak puas dengan tanda-tanda dari wujud rumah tidak seratus persen sama, kembali sang pengembara mendapatkan kekecewaan yang kedua kalinya. Juga harapan demi harapan tidak kunjung terwujud, bahkan semakin menuai kekecewaan.

Kemudian dicobanya kembali bertanya kepada semua orang dalam satu waktu, dengan harapan jika banyak orang dimintai penjelasannya akan semakin cepat dan tepat menemukan rumah dengan tanda-tanda fisik yang akan dijelaskannya. Dicobalah menanyakan kepada satu, dua, tiga dan empat orang, alhasil tidak memberikan kepuasan, sebab keempat orang memberikan jawaban yang tidak sama, dan semakin membingungkan. Dengan berbekal penjelasan yang membingungkan, sudah barang tentu tidak ada usaha yang bisa dilakukan untuk mencari rumah yang dimaksud.

Sang pengembara sempoyongan dengan kekecewaan yang semakin berat, semua harapan sirna, bahkan putus harapan untuk dapat menemukan rumah yang pernah ia tinggali. Untuk meluruhkan kepenatan dan kekecewaan, sang pengembara mencari tempat teduh untuk beristirahat. Ditemukanlah sebuah sungai besar, dengan penuh pohon pisang disekitar sungai. Berbaringlah sang pengembara dibawah pohon pisang, tidak disadarinya hingga terlelap tidur. Dari terbangun tidur, antara sadar dan tidak sadar, serasa ingat sesuatu bahwa dahulu juga pernah terlelap ditempat yang sama ketika sedang merumput untuk memberi makan kambing kesayangannya. Terbukalah satu demi satu ingatan-ingatan yang lalu, terkait satu demi satu, sehingga mendapatkan kesimpulan rumah yang dicarinya tidak jauh dari tempat yang ia terlelap tidur.

Namun kali ini sang pengembara, tidak lagi berpatokan kepada tanda-tanda fisik wujud rumah yang akan dicarinya, melainkan membuka hati-nuraninya untuk merasakan apa yang seperti dirasakan dahulu ketika pulang sehabis bekerja mencari rumput. Kali ini digunakan tanda-tanda alam sebagai penuntun jalan untuk mendapatkan rumah yang ia maksud. Dengan sabar dan ihlas ia mengingat-ingat dengan pikiran yang jernih, walaupun jalan sedikit berubah wujud namun tidak jauh dari alur yang dahulu dijalaninya. Akhirnya ditemuinya sebuah rumah, namun berbeda dari tanda-tanda fisik yang diingatnya. Kali ini, tidak mendapatkan kekecewaan karena sangat yakin rumah inilah yang pernah ditinggalinya. Semakin menambah keyakinan , ketika melihat sebuah selokan kecil  dikiri rumah itu, dikala itu pernah jatuh dan luka memar  ketika sedang bermain-main dengan teman sebayanya.

Sang pengembara mencoba memasuki rumah yang tidak berpagar, didepan pintu mencoba mengucapkan salam, agar sang penghuni rumah keluar menemuinya. Beberapa salam yang diucapkan, tidak membuat penghuni rumah keluar menemuinya. Dicobalah untuk mengetuk pintu, sontak terkaget ternyata tangan tidak dapat mengetuk pintu karena kayu pintu dapat tembus.  Dengan penasaran, siapa saya mengapa tidak dapat mengetuk pintu. Namun dengan berbekal yakin dan ihlas masuklah kedalam rumah dengan menembus pintu kayu, begitu masuk kamar dia melihat dirinya terlelap di ranjang kamar depan. Kontan seakan dia tersedot kedalam tubuh diranjang, dan terbangun dipagi hari menjelang subuh dengan rasa segar namun dengan penuh keheranan apa gerangan yang telah terjadi seakan mimpi seperti nyata. Kembali terbangun membuat pikiran aktif kembali, namun tidak dapat merasakan kembali secara untuk apa-apa yang telah terjadi dalam mimipinya. Secara samar-samar semua dapat dirasakan walaupun tidak sama keadaannya saat dalam mimpinya.

Demikianlah pula dengan hidup dan kehidupan kita semua, seakan seperti usaha untuk mengupayakan mimpi menjadi kenyataan. Dari paparan diatas semua perbuatan harus dilakukan dengan ihlas dengan berlandaskan cerminan hati yang bersih dengan kekuatan pikiran yang dimiliki kita. Dengan takwalah semua perjalanan hidup kita bisa kita arungi dengan selamat karena hakekat TAKWA menurut saya adalah:

Tumindake Asaking Kawedaran ing Wadine Ati

Kita semua sebenarnya belum tentu mengetahui dan menyadarinya setiap gerak-langkah yang dilakukan dalam berkehidupan di dunia ini, sebenarnya siapa yang menggerakkan. Terbukti ada yang disadarinya, ada pula yang tidak disadarinya. Selain Tuhan Yang Maha Kuasa, pada diri manusia juga ada yang menguasainya, untuk mengajari bagaimana badan kasar manusia agar berbuat sesuai azas kebenaranNya. Terbukti juga bahawa manusia cenderung mencari dan berpihak kepada kebenaran yang hakiki. Oleh karena itu biasakanlah segala perbuatan merupakan gelaran dari hati yang paling dalam, dilahirkan dari tangan dan pikiran kita sendiri, dilandasi dengan keihlasan berbuat. Dengan demikian kita akan mendapatkan apa sebenarnya kebenaran itu, dengan belajar berperilaku Takwa, karena mencari kebenaran itu sama dengan perilaku sang pengembara yang dijelaskan diatas, untuk mencari siapa jati-dirinya, sehingga diperoleh ketenangan hidup yang akan berbuah  kebahagian baik didunia (alam nyata – LOVE) maupun di akherat (alam kasat nyata – love).

Sekian posting saya akhiri, karena jam telah menunjukkan  jam 03.25.

 

 

Posted in filsafat | Tagged , | Leave a comment

Cipta Rasa Karsa: pernahkah anda mengetahui keberadaannya ?

Cipta Rasa Karsa, sebuah istilah yang pernah dimunculkan di negara kita . Juga pernah dilontarkan oleh Founding Father Negara Indonesia, Soekarno, bahwa sebagai Manusia Indonesia Seutuhnya dalam berkehidupan haruslah Selaras, Serasi dan Seimbang (3S) antara Cipta, Rasa dan Karsa. Juga hal ini pernah diajarkan oleh bapak guru kita sejak saya masih di SMP, sekitar tahun 1976-1978 dalam mata pelajaran Civic. Waktu itu saya telan pelajaran itu sebagai hapalan belaka, yang sudah barang tentu tidak mengetahui apa makna hakekat yang terkandung didalamnya.

Namun pada jaman sekarang istilah ini telah menjadi istilah biasa saja bahkan ketenarannya dikalahkan dengan istilah-istilah gaul anak muda. Atau bahkan hilang ditelan oleh jaman, menjadi hilang apa makna hakekat yang terkandung yang seharusnya dipahami apa hakekat didalam istilah itu. Memang sulit untuk dipahami, karena istilah ini sebenarnya berkenaan dengan esensi manusia itu sendiri. Yang saya maksud sebagai esensi manusia dalam hal esensi yang bersifat kasat mata.

Dalam penjabarannya, istilah ini banyak dikait-kaitkan dengan istilah-istilah yang ada dalam Agama-agama dimuka bumi ini. Pembahasan dijabarkan sesuai dengan kitab-kitab agama, namun sangat jarang dikaitkan keberadanaannya dalam esensi jatidiri manusia itu sendiri yang didasarkan pada fakta nyata didalam kehidupan sehari-hari. Atau bahkan hanya terjebak dengan istilah-istilah saja, tidak pernah menyentuh dimana keberadaanya, bagaimana proses terjadinya, apa hubungan diantara ketiga istilah tersebut, serta apa peranannya dalam jati diri manusia, dan lain sebagainya, sehingga ujung-ujungnya akan mengaburkan istilah itu sendiri.

Istilah Cipta Rasa Karsa, merupakan istilah yang sederhana terkesan jadul, dan enggan untuk dibahas tentang apa sebenarnya sebagai perwujudannya. Perwujudan yang dimaksud bukan suatu perwujudan dalam bentuk nyata, melainkan keberadaannya dalam bentuk penomena-penomena yang nyata adanya yang bisa dirasakan keberadaannya.

Keberadaan bulan dimalam hari, tidak akan tampak nyata perwujudannya, tanpa adanya sinar matahari yang menyinari bulan. Namun dalam penomena bulan terlihat dimalam hari, sekaligus sebagai perwujudan adanya Matahari dan Bulan dalam bentuk perwujudan sebagai penomena, tidak dalam artian perwujudan fisik. Begitulah kira-kira perwujudan dari Cipta Rasa dan Karsa.

Terkait istilah Cipta, Rasa, Karsa dimana keberadaannya ada dalam jatidiri manusia, berikut ini saya kutip dari berbagai sumber yang menjelaskan apa pengertian dan definisi manusia menurut beberapa ahli:

  • NICOLAUS D. & A. SUDIARJA
    Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang
  •  NICOLAUS D. & A. SUDIARJA
    Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang
  • ABINENO J. I
    Manusia adalah “tubuh yang berjiwa” dan bukan “jiwa abadi yang berada atau yang terbungkus dalam tubuh yang fana”
  •  UPANISADS
    Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana atau badan fisik
  • SOKRATES
    Manusia adalah mahluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu dengan kuku datar dan lebar
  • KEES BERTENS
    Manusia adalah suatu mahluk yang terdiri dari 2 unsur yang kesatuannya tidak dinyatakan
  • I WAYAN WATRA
    Manusia adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan karsa
  • OMAR MOHAMMAD AL-TOUMY AL-SYAIBANY
    Manusia adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir, dan manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan

 Dalam setiap perjalanan hidup manusia, sebenarnya didorong oleh tiga kekuatan nyata yang diapat kita rasakan yang disebut dengan Cipta, Rasa dan Karsa. Oleh karena itu kita perlu mengenalnya terlebih dahulu melalui proses penggalian jati-diri dari berbagai hal dan cara.

Cipta

Cipta bisa diartikan sebuah proses pengupayaan untuk mewujudkan sesuatu yang belum ada menjadi nyata.  Cipta  pada dasarnya sebuah kekuatan pada diri “Manusia”  terhadap segala sesuatu yang bersifat untuk mewujudkan sesuatu menjadi  nyata.  Cipta memiliki kekuatan tersendiri atau independent atau merupakan inner power yang Tuhan YME berikan kepada manusia sebagai pembeda dari mahluk-mahluk lainnya. Dengan demikian bisa merupakan sebuah kekuatan yang dapat berjalan  sendiri karena merupakan energi. Cipta pada dasarnya secara lihiriyah (dapat diraba) bersemayam dalam otak manusia, dalam kepala manusia dengan segala perangkatnya berupa sensor-sensor motorik yaitu: mata, telinga, hidung dan mulut. Melalui keempat pintu inilah dapat mempengaruhi proses penciptaan yang dilakukan manusia, menuju kepada proses penciptaan yang baik maupun yang buruk. Sebenarnya selain ada dalam otak manusia, cipta bisa juga berada ditempat lainnya, sudah barang tentu ada pada bagian-bagian pada diri manusia bersifat kasat mata.

Rasa

Rasa secara arti kata merupakan hasil atau tanggapan dari sistem sensorik yang dapat merasakan sebuah kondisi-kondisi tertentu baik secara fisik maupun non-fisik. Hasil tanggapan merupakan sebuah nilai-nilai empirik yang kemudian dinyatakan secara visual, ucapan, perbuatan dan lain sebagainya. Sebagai contoh, pada saat manusia merasakan hawa dingin pegunungan disaat berkemah, karena tidak biasanya sedingin ditempat tinggalnya, setelah merasakan akan menghasilkan sebuah tata-nilai secara empirik baik secara visual, ucapan ataupun perbuatan. Demikian pula bila merasakan sedapnya makanan, maka akan timbul sebuah reaksi yang merupakan rasa dengan nilai empirik yang berbeda antara manusia-manusia lainnya, walaupun merasakan resep makanan yang sama. Muncullah keberagaman pendapat yang juga merupakan rasa sebagai reaksi atau tanggapan dari masakan yang dirasakan, muncullah suka, biasa, amat suka, favorit. Disinilah letak keberagaman manusia, sehingga muncullah yang namanya rasa secara nisbi atau relatif dan rasa secara hakiki.

Karsa

Karsa secara arti kata dapat diartikan sebagai kehendak yang ada pada diri “Manusia”, juga merupakan sebuah kekuatan tersendiri yang Tuhan YME berikan kepada manusia sebagai pembeda dari mahluk-maluk ciptaNya yang lain. Karsa sangat lekat sekali dengan kaitan proses untuk bergerak, beraktifitas atau bereaksi untuk berupaya mewujudkannya. Salah satu contoh bila perut kita “terasa” lapar, yang merupakan hasil dari merasakan dari sensor-sensor motorik, maka akan bisa berlanjut menjadi “Karsa” secara langsung tanpa didahului oleh “Cipta”. Bergerak langsung ingin mewujudkannya dengan segala cara mulai dari yang baik, sampai dengan terjerumus menjadi hal-hal yang tidak baik. Sekali lagi “baik” juga sebagai hasil dari perwujudan “Rasa” yang juga sangat-sangat relatif penilaiannya.

Bapak Pendiri Bangsa Indonesia yang juga soko guru bangsa pernah diucapkan bahwa untuk menjadi manusia indonesia seutuhnya haruslah Selaras, Serasi dan Seimbang antara “Cipta”, “Rasa” dan “Karsa”, sehingga dapat mewujudkan kekuatan yang sangat dahyat guna “Memayu Hayuning Buwana”.

Sekian dulu posting saya, dilain kesempatan akan diposting juga ulasan tentang kenyataan hidup yang berkenaan dengan topik ini.

 

AKU

AKU TERLAHIR ATAS KEHENDAKMU YA ALLAH SANG PENGUASA ALAM
CIPTAKU, ENGKAU SEMAYAMKAN DALAM PIKIRANKU
RASAKU, ENGKAU SEMAYAMKAN DALAM HATIKU
KARSAKU, ENGKAU SEMAYAMKAN DALAM TUBUHKU
KAU LENGKAPI SEMUANYA DALAM SATU KESATUAN MENJADI AKU
AKU, ENGKAU SEMAYAMKAN DALAM ROH DIDALAM TUBUHKU
ROH DALAM TUBUHKULAH YANG MENERANGI, MENGAYOMI, MELINDUNGI……
SETIAP JENGKAL YANG KULANGKAHKAN ATAS IJINMU YA ALLAH.

TERNYATA…………….
AKU ADALAH HAMBAMU YANG DIGERAKKAN OLEHMU
SESUAI KEHENDAK ROH DALAM TUBUHKU

JADI AKU…………….
HANYA BISA MENCIPTA DALAM PIKIRANKU DALAM SUASANA RASA….
HATIKU DAN BERBUAT ATAS KARSAKU MELALUI GERAKAN TUBUHKU INI
SEMOGA APA YANG AKU PERBUAT BERADA DALAM JALANMU DAN……
KEHENDAKMU YA ALLAH

AMIN YA RABBAL ALAMIN

Posted in filsafat | Tagged , | Leave a comment

Belajar dari dunia anak-anak

Title: Learning from the world of children
This post is a reflection of my heart, not from any adaptation. If any same nature, it is because we have the same heart and are in the same world. Sorry this article was written in Indonesian, for the sincerity of the writing.

 Posting kali ini merupakan serpihan dialektika dari posting tentang Dua belahan cinta berlabuh. Namun aku menyoroti manusia yang berada disisi kiri atau “Learning Overall from Virtual spaces Existence” — LOVE  — disebut sebagai “Pembelajar”. Sedangkan obyek yang dipelajari adalah dunia anak-anak, berada disebelah kanan berada dalam “Virtual spaces Existence”.

Pernahkan kita mengamati secara seksama tentang dunia anak-anak ?

Pertanyaan ini dilontarkan, karena tidak semua orang bisa mengerti tentang dunia anak-anak, apalagi memaknai lebih dalam apa sebenarnya dunia anak-anak itu. Bahkan diberbagai belahan dunia para pasutri sudah pasti pernah memiliki anak yang merupakan citra dari dirinya sendiri, karena ini adalah proses kehidupan secara alamiah yang harus terjadi. Akan tetapi belum tentu semua para  orang tua yang memiliki anak-anaknya mengerti, apalagi dapat menyelami dunia anaknya sendiri.

Dunia anak merupakan sebuah “ekpresi kejujuran”, dimana semua perilaku didalam sosialnya berjalan secara alamiah. Sudah barang tentu hal itu terjadi jika si anak-anak tetap berada pada sisi “Virtual spaces Existence”, yang ditandai adanya wajah polos. Sebagian orang kepolosan wajah anak-anak, menganggapnya sebagai wajah “bodoh”, “dungu”, itulah awal dari kesalahan persepsi terhadap dunia anak-anak. Ironis memang, kepolosan anak dianggap sebuah kedunguan, yah sudah barang tentu itu karena ketidak mampuan sang “Pembelajar” untuk dapat menembus dunia anak-anak yang memang berada dalam “Virtual spaces Existence”. Mengapa demikian, karena sang “Pembelajar” cara menembus dunia anak-anak masih menggunakan dunianya sendiri yaitu dunia orang dewasa, sudah barang tentu tidak akan ada link and match diantara keduanya. Karena para “Pembelajar” yang notabene berada disebelah kiri yaitu “LOVE”, haruslah menggunakan menengok kedaerah “love” yang juga ada pada diri sang “Pembelajar”. 

Karena ada pepatah, untuk mengetahui dunia anak-anak, masuklah kedaerah anak-anak, bukan menjadi anak-anak. Maksudnya masuklah kedaerah “Virtual spaces Existence”, dengan demikian akan terjalin antara LOVE + love tertangkup menjadi satu yaitu jalinan cinta mengerti dunia anak-anak. Sebenarnya ini adalah wahana pembelajaran bagi orang dewasa untuk bisa mengerti tentang jati-dirinya, karena sebelumnya pernah menjadi anak-anak, namun dikala itu sang “Pembelajar” tidak d.apat memaknai bahkan mengerti tentang dirinya sendiri.

Jangan usik dunia anak-anak……

Kalau anda terbiasa mengamati dunia anak-anak dikala sedang bermain-main, baik berkelompok maupun sendiri, kita dapat menikmatinya tentang kepolosan, keluguanya. Entah mengapa, jujur saja, kalau benar anda dapat menembus “Virtual spaces Existence”nya , anda seakan dapat menikmati keindahan, ketentraman dunia anak-anak.

Mengapa demikian ?

 ”Virtual spaces Existence”, itu adalah dunia Tuhan yang dititahkan kepada manusia sejak berada dalam rahim ibu. Penitahan itu adalah sebagai bagian dari belahan Cinta Tuhan kepada manusia, sedangkan belahan cinta lainnya adalah diluar diri manusia yaitu Dunia nyata yang kita tempat. Demi kesucian dan kemuliaan dari “Virtual spaces Existence”, oleh Tuhan diletakkan secara maya, orang mengatakan berada dilubuk hati yang pang dalam, atau cara pengungkapan lainnya.

Kembali kedunia anak-anak. Anak-anak yang masih belum beranjak dewasa, kebanyakan dunia anak-anak masih berada pada daerah “Virtual spaces Existence”nya. Dunia ini identik dengan kepolosan, keluguan, kejujuran, tampil apa adanya, kalau kita terbiasa dengan dunia anak-anak akan menemukan batas antara masih berada di “Virtual Existence” atau berada diluarnya. Dikatakan dunia anak kecil seperti dunia yang tidak berdosa.

Kapan dikatakan sebagai bukan anak-anak ?

Dunia anak-anak dikatakan sudah bermigrasi menjadi dunia bukan anak-anak, bila sudah secara keseluruhan bermigrasi dari “Virtual spaces Existence” yang berada di kanan menuju ke kiri.

Tanda-tandanya jika sang anak sudah mulai menggunakan akal-pikirannya dalam setiap perilakunya. Oleh karena itu kita sebagai orang tua, harus mengawal, memberikan pembinaan, memberikan contoh kepada anak-anak kita cara berperilaku, bertindak jangan sampai tidak sesuai dengan aturan-aturan yang ada dalam “Virtual spaces Existence”. Secara tertulis aturan-aturan yang ada dalam “Virtual spaces Existence”, dituliskan dalam kitab-kitab Agama yang dibawa oleh para RosulNya.

Namun yang paling penting sebagai manusia yang sudah mulai bermigrasi ke luar dari “Virtual spaces Existence”, hendaklah selalu belajar kembali untuk menengok dunia yang pernah disinggahi dan ditinggalinya.

Kadang orang bijak mengatakan:

Didalam menjalankan berkehidupan didunia ini hendaklah kita selalu menggunakan “Hati Nurani“. Maksudnya saat menggunakan akal-pikiran hendaklah jangan meninggalkan “Hati Nurani”, karena Hati Nurani adalah saudara Tua dari Akal-Pikiran yang kita miliki.

Sekian posting saya

Mudah-mudahan ada manfaatnya.

 

 

Posted in filsafat | Tagged , | 3 Comments

Dua belahan cinta berlabuh

Title: Integrity of the two hemispheres of love
This post is a reflection of my heart, not from any adaptation. If any same nature, it is because we have the same heart and are in the same world. Sorry this article was written in Indonesian, for the sincerity of the writing.

Hari ini selasa 20/Desember/2011 aku terbangun dini hari jam 3.50WIB. Segar rasanya, namun aku terdiam seakan ada yang perlu aku ungkapkan dalam bentuk dialektika. Sebenarnya saat itu terlintas dalam hati saya tentang kata “Love”, sepercik hati menggugah bahwa sebenarnya didalam berkehidupan harus disandarkan pada kata “Love”. Karena “Love” saya terbangun kembali pada keadaan yang sama untuk melakukan kegiatan-kegiatan sehari-hari.

Didalam dadaku yang mulai menghangat karena aku terbangun, sepercik hati juga menggugah….”Love” tak akan kawedar (tergelar) tanpa berlabuh di dua sisi.

Disini aku memberikan judul “Dua Belahan Cinta Berlabuh”, bahwa cinta sesungguhnya yang akan abadi adalah dua belahan cinta yang tertangkup menjadi seutuhnya. Bukanlah cinta satu belah saja melainkan keduanya, menyatu menjadi cinta yang sesungguh.

Hmm….aku mencoba tetap bertahan dengan meredam semua akal-pikiranku, agar dadaku tetap terjaga dan aku mencoba untuk menangkap alam bawah sadarku dengan saksi akal-pikiranku. Aku mulai mencoba untuk menjlentrehkan secara sistimatis sesuai dengan pengalaman hidup yang aku jalani saat ini. Aku memang sering menyadari bahwa disetiap lini kehidupan selalu berbarengan dua sisi yang saling bertangkup, seperti Pria-Wanita, Siang-Malam, Marah-Sabar, AKu datang Kau hadir, Tegur dan Sapa, dan lain sebagainya. Dimana keberadaan salah satunya dikarenakan oleh keberadaan lainnya. Aku memandang Kau dari Aku, Aku Kau pandang dari Engkau. Boleh dikatakan makna ini adalah saling berbalas wujud tanpa ada putus hubungan, satu mati maka matilah semuanya. Inilah yang disebut dengan pemaknaan “Cinta” atau “Love” yang sesungguhnya.

Masih pagi hari….aku bergumam, dan memiliki pemikiran yang agak berbeda, bagaimana kalau aku menerawang untuk memandang masa kecilku. Anggap sosok manusia masa kecilku adalah orang lain. Kan bisa karena masa laluku bisa aku anggap adalah sosok lain, ini memang agak aneh menurut akal-pikiranku.

Ternyata aku masih bisa mengingat masa kecilku dalam batas tertentu, yaitu saat aku digendong sekitar berumur 3th, sebelumnya aku tidak bisa menyadari dan mengingatnya.

Bagaimana dengan aku sebelum berumur 3th, sadarkah aku dengan keberadaanku saat itu ?

Jawabannya, aku tidak tahu entah apa yang terjadi saat itu. Sepertinya umur 3th sebelumnya adalah aku yang telah hilang dan aku tidak mengenalnya. Karena ini masih berada dalam ranah dunia, semuanya masih bisa diperbincangkan dengan segala aspek kenyataan yang ada, karena  semua orang didunia ini pasti mengalaminya.

Bagaimana dengan anda cobalah mengingat, sejak mulai kapan anda dapat mengenal diri anda sendiri.

Maksudnya, aku coba untuk bisa mengkaji dengan pemikiran terdalam mengenai perjalanan manusia sejak didunia yang memang merupakan platform kehidupan untuk bisa disadari, daripada aku biarkan begitu saja tanpa ada sepercik pemikiran apapun.

Bukankah kita semua adalah mahluk manusia dipenuhi dengan tanggung jawab dengan aspek kesadaran dalam setiap langkah hidupnya ?.

Bak, kita sedang berjalan menelusuri setiap jengkal jalan dengan kaki kita, diperlukan sebuah kesadaran diantara semua komponen tubuh tentang keberadaan kita dalam perjalanan itu. Baik semua panca indera, bagian-bagian motorik tubuh, juga diajak sesadar-sadarnya tanpa adanya pemaksaan dengan kaidah selaras, serasi dan seimbang (3S). Bila salah satu komponen tubuh sedang tidak dalam keadaan 3S maka hendaklah perjalanan ditangguhkan sebentar untuk mendapatkan kembali kondisi 3S itu. Dengan demikian kita dapat memiliki aspek kesadaran penuh dalam setiap langkah kehidupan nyata ini.

Karena “Cinta” adalah sebuah kaidah dasar antara dua wahana yang saling tertangkup, aku mencoba menelaah kata yang sudah dikenal diseluruh dunia ini yaitu “LOVE”. Seperti yang aku tuliskan diatas, “LOVE” tak akan pernah kawedar bila  tidak ada dua sisi untuk berlabuh. Untuk itu aku mencoba memberanikan diri untuk membuat dua arti singkatan “LOVE” ini menjadi:

 

Learning Overall in Virtual spaces Existence — love

Learning Overall from Virtual spaces Existence — LOVE

 

Untuk membedakannya aku singkat dengan huruf kecil dan huruf besar, yang menandakan huruf kecil adalah cinta berlabuh dialam anak-anak, dan huruf besar cinta berlabuh dimasa dewasa.

Aku mencoba menggambarkan salah satu contoh “dua belahan cinta” yang secara nyata terjadi dihadapan kita dalam kesehariannya. Atas nama cinta, dipastikan sesungguhnya terbelah menjadi dua dalam tempat yang berbeda. Terjadinya cinta sesungguhnya, dikarenakan dua labuhan cinta ditempat berbeda bertemu dan bertangkup menjadi satu kesatuan yang utuh, ya itulah cinta yang sebenarnya. Dimana ada cinta, pasti ada “Dua belahan cinta berlabuh”.

Disini saya mencoba menguraikan seandainya ada sosok manusia, yang didalam perjalan hidupnya tetap tegar sampai menjadi sosok manusia dewasa.  Sudah dipastikan tanpa adanya cinta, tidak mungkin sosok manusia tersebut sampai kepada usia dewasa. Sudah pastilah, kisah perjalanannya dilandaskan kepada cinta, cinta memelihara hidupnya, cinta mencari penhidupannya, cinta berkomunikasi antar sesama, begitulah seterusnya. Pada illustrasi gambar diatas, digambarkan sosok manusia yang sudah dewasa, sebenarnya dalam perjalanan hidupnya menuju kedewasaan sejak dilahirkan akan melewati dua keadaan yang sangat berbeda. Sisi kanan dan sisi kiri terdapat garis pemisah, dimana memiliki alam kemanusiaan yang berbeda. Sisi kanan adalah  “Virtual” spaces Existence” dengan garis pemisah kapan  kita tidak  dapat mengingat waktu masih anak-anak. Sisi kiri adalah sisi dunia nyata orang dewasa, dimana sudah dilengkapi pancaindera secara sadar dan otak sudah bekerja dan digunakan.

Disebelah kanan artinya, pada saat itu adalah berada pada ruang waktu yang tidak bisa ditembus sekalipun oleh pancaindera kita, ruang waktu itu saya menyebutnya sebagai: “Virtual spaces Existence”, ini adalah sebuah istilah bebas, menurut saya. Saya katakan sebagai virtual karena kitapun tidak bisa mengetahui alam kesadaran saat itu, padahal itu sama-sama berada didunia ini.

Learning Overall in Virtual spaces Existence

Dalam istilah saya menyebutnya sebagai: “Belajar secara keseluruhan didalam keberadaannya ruang virtual”. Ini terjadi pada kurun waktu sebelum kita mulai lupa mengingat masa kanak-kanak kita. Artinya kita berada disebelah kanan, semua perilaku anak-anak tidaklah dikendalikan oleh akal-pikirannya, buktinya sang pelaku sendiri tidak bisa mengingat dirinya sendiri.

Nah, disinilah semua gerak-gerik, tingkah-laku dan lain-lainnya dilakukan atas suasana ruang virtual itu. Orang jawa mengatakan, anak-anak bermain dengan amongnya (pengayom virtualnya). Disitulah keberadaan sang pengayom sejati, yang telah dititipkan dan dititahkan oleh sang pencipta kedalam tubuh manusia. Dikatakan bahwa dunia anak-anak adalah dunia lugu, tampil apa adanya dan bukan ada apanya, serta dunia anak-anak dikatakan serba ekpresi kejujuran. Namun dalam keberadaannya di daerah ini (sebelah kanan), anak-anak juga belajar mengintip daerah dibaliknya (sebelah kiri). Makanya dikatakan anak-anak belajar secara keseluruhan tentang lingkungannya didalam “Virtual spaces Existence” nya. Ibarat dia berada dirumahnya sendiri, namun dia belajar dengan mengamati atau mengintip dunia tetangganya (sebelah kiri). Siapa ?, minimal anak-anak belajar mengenal siapa Bapak dan Ibunya. Ini ditandai dalam illustrasi sebagai garis merah putus-putus menuju ke kiri.

 Learning Overall from Virtual spaces Existence

Dalam istilah saya menyebutnya sebagai: “Belajar secara keseluruhan dari keberadaannya ruang virtual”. Ini terjadi pada kurun waktu sesudah kita mulai  mengingat masa kanak-kanak kita. Artinya kita berada disebelah kiri, semua perilaku kita sudah mulai dikendalikan oleh akal-pikiran, buktinya kita sebagai pelaku sudah mulai mengingat keberadaan kita sendiri.

Disini gerak-gerik, tingkah laku dan lain sebagainya secara normatif akal-pikiran mulai mengendalikannya. Disini perlunya agar mendapatkan “LOVE” yang sebenarnya, perlu kiranya belajar secara keseluruhan dari ruang virtual. Jika ini dilakukan sama dengan mulai berproses menjadi orang dewasa dengan mengkaji dirinya sendiri, diketahuinya secara sadar siapa diri sebenarnya. Oleh karena itulah, pada saat ini kita diwajibkan untuk mempelajari ilmu.

 Posting ini pastilah akan dapat membuka dialektika-dialektika baru dengan berbagai cabang topik. Namun saya cukup mengakhiri sampai disini saja tentang topik LOVE dari dua belahan, dan intinya cinta sejati harus merupakan tangkupan dari dua belahan cintyang oleh sang pencipta memang dipisahkan oleh garis pemisah yang tidak langsung saling bertemu sebelum adanya usaha dari dirinya sendiri.

Untuk serpihan topik yang lain akan diposting di judul yang lainnya.

Semoga bermanfaat untuk kita semua sebagai wawasan menjalankan hidup dengan penuh cinta.

Posted in filsafat | Tagged , | Leave a comment

Mulai membedah filsafat

Kali ini aku tanpa sengaja saat ngeloyor sana sini melewati setiap jalan yang di tampilkan oleh mbah google, terutama wikipedia, terselinap kata-kata “Filsafat”. Aku coba untuk mengikutinya dengan mengkopas kata “filsafat” dan aku tulis  ke isian pencarian. Hmm maksudnya aku mencoba memulainya dengan kata-kata tersebut apa seh maksudnya. Aku sebelumnya tidak pernah memperhatikan dan tertarik dengan kata-kata yang satu ini. Yang aku maksud bila ingin mendalami apa yang dimaksud dengan “filsafat” selalu sesuatu yang sukar dimengerti tinggi di awan, dan maksudnya tidak jelas.

Eh….ternyata aku bisa mulai dengan etimologi dari filsafat itu dulu. Apa maksudnya dengan kata-kata tersebut. Saya mencoba untuk mencari wikipedia tentang filsafat dan saya kutip sebagai berikut:

Etimologi

Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = “kebijaksanaan”). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”.

Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut “filsuf”.

Aku sangat tertarik dan akan memulai dulu dengan kata yang disebut dengan “Pecinta Kebijaksanaan“. Yang membuat aku sangat tertarik karena banyak sesuatu yang tersirat dalam kata-kata tersebut, yang menurut saya sangat langka pada jaman modern ini.

Mengapa…..

Disini lebih utama adalah menyebutkan sosok apalagi kalau bukan “Manusia” yang merupakan sebagai “Pecinta“, kedua adalah obyek yang dicintai yaitu “Kebijaksanaan“. Dua kata ini menurut saya adalah pemunculan secara klasikal pada jamannya, namun wujudnya pada jaman modern ini bisa berbentuk apapun namun hakekat yang terkandung tidak akan pernah berubah. Hanya saja pada jaman modern ini, telah memiliki reinkarnasi wujud yang beraneka ragam seiring dengan perkembangan sosial manusia, sehingga lebih sulit memilahnya mana yang masih “melingkupi hakekatnya” dan mana yang telah “menelanjangi hakekatnya”.

Disini, aku hanya mencoba untuk mengkaji dan mengungkapkannya menurut caraku, dari dalam batin diriku sendiri yang mengalir secara alamiah . Sehingga dalam blog ini aku mencoba untuk mengkomparasi, menganalisa dan menyambungnya dengan melihat kenyataan yang ada didalam kehidupan kita yang sekarang.

Disini aku bagaikan seorang pelukis, aku hanya ingin menorehkan isi alam manusiaku kedalam bentuk tulisan-tulisan filsafat

 Aku sebagai CiptaanNya dengan mutidimensi, terkadang selalu berada pada kondisi kemanusiaan yang berbeda dari hari kehari, bagai pepatah jawa bahwa manusia itu “Mulak Malik Musik” yaitu dari multidimensi itu selalu ada dimensi tertentu yang memberikan kondisi tertentu pada diriku. Suatu saat kadang dimensi seni sangat berpengaruh, sehingga kuraih alat musik untuk memainkannya. Di situasi lainnya kadang muncul spiritualisme, sehingga ingin menumpahkan apa-apa yang ada didalam dadaku baik dalam bentuk tulisan apapun, dialektika atau dialog dalam bentuk ucapan. Pada kondisi ini membuat kondisi peka terhadap sosial sekitarnya. Bila situasi dimensi lainnya muncul, kadang ingin bermain-main maka aku akan bermain dengan keasyikan hobiku yang ada. Yah itulah manusia kita sebagai pelaku kehidupan selalu menurut apa yang tersirat dalam hati yang terdalam, asalkan dapat memaknai apa maksud yang terkadung didalamnya dengan secara sadar.

Kita perlu menyadari bahwa Manusia adalah sosok multidimensi

Yang dimaksud multidimensi disini bukanlah multidimensi dalam bentuk wujud fisik, akan tetapi “Manusia” sesungguhnya yang bersemayam dalam wujud fisik yang berupa non-fisik. Sebenarnya pada jaman sekarang mayoritas orang di dunia ini telah meyakini bahwa kata “Manusia” itu terdiri dari dua yaitu Manusia secara fisik dan Manusia secara non-fisik. Saya lebih suka mengatakannya sebagai “Manusia materi” dan “Manusia non-materi”. Manusia materi juga multidimensi akan tetapi sampai saat ini terbatas sebagai 3 dimensi saja — itupun konvensi manusia fisik pada jaman sekarang. Sedangkan Manusia non-materi memang diyakini keberadaannya melalui fenomena-fenomena berupa multidimensi lebih dari dimensi manusia fisik. Demikian komplek jatidiri manusia sesungguhnya, sehingga sang pencipta menyebutnya sebagai ciptaannya yang paling memiliki derajat palaing tinggi diantara ciptaan lainnya, serta merupakan ciptaan yang paling mulia. Disinilah yang menjadi ketertarikan saya untuk mengkaji yang namanya filsafat.

Apa yang dimaksud Filsafat secara definisi ?

Aku mencoba mencari dalam internet apa yang dimaksud dengan definisi filsafat. Akhirnya aku mulai membuka  satu persatu daftar pencarian di google tentang definisi filsafat. Aku mulai menelaahnya dan membacanya, aku peroleh tentang bebera definisi diantaranya adalah:

Kutipan dari: http://www.consumptive.net/2011/11/pengertian-filsafat-definisi-filsafat.html

  1.  Pengertian filsafat menurut Plato
    Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli.
  2. Pengertian filsafat menurut Aristoteles
    Filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
  3. Pengertian filsafat menurut Al Farabi
    Filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.
  4. Pengertian filsafat menurut Cicero
    Filsafat adalah sebagai “ibu dari semua seni “( the mother of all the arts“ ia juga mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae (seni kehidupan )
  5. Pengertian filsafat menurut Johann Gotlich Fickte (1762-1814 )
    Filsafat sebagai Wissenschaftslehre (ilmu dari ilmu-ilmu , yakni ilmu umum, yang jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari seluruh kenyataan.
  6. Pengertian filsafat menurut Paul Nartorp (1854 – 1924 )
    Filsafat sebagai Grunwissenschat (ilmu dasar hendak menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama, yang memikul sekaliannya .
  7. Pengertian filsafat menurut Imanuel Kant ( 1724 – 1804 )
    Filsafat adalah ilmu pengetahuan yange menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan.
    Apakah yang dapat kita kerjakan ?(jawabannya metafisika )
    Apakah yang seharusnya kita kerjakan (jawabannya Etika )
    Sampai dimanakah harapan kita ?(jawabannya Agama )
    Apakah yang dinamakan manusia ? (jawabannya Antropologi )
  8. Pengertian filsafat menurut Notonegoro
    Filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah , yang disebut hakekat.
  9. Pengertian filsafat menurut Driyakarya
    Filsafat sebagai perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebabnya ada dan berbuat, perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai “mengapa yang penghabisan “.
  10. Pengertian filsafat menurut Sidi Gazalba
    Berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran , tentang segala sesuatu yang di masalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal.
  11. Pengertian filsafat menurut Harold H. Titus (1979 )
    Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepecayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi;­       Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh suatu pandangan keseluruhan;
    Filsafat adalah analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan pengertian ( konsep );
    Filsafat adalah kumpulan masalah yang mendapat perhatian manusia dan yang dicirikan jawabannya oleh para ahli filsafat.
  12. Pengertian filsafat menurut Hasbullah Bakry
    Ilmu Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ke-Tuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia itu sebenarnya setelah mencapai pengetahuan itu.
  13. Pengertian filsafat menurut Prof. Dr.Mumahamd Yamin
    Filsafat ialah pemusatan pikiran , sehingga manusia menemui kepribadiannya seraya didalam kepribadiannya itu dialamiya kesungguhan.
  14. Pengertian filsafat menurut Prof.Dr.Ismaun, M.Pd.
    Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh , yakni secara kritis sistematis, fundamentalis, universal, integral dan radikal untuk mencapai dan menemukan kebenaran yang hakiki (pengetahuan, dan kearifan atau kebenaran yang sejati).
  15. Pengertian filsafat menurut Bertrand Russel
    Filsafat adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah antara teologi dan sains. Sebagaimana teologi , filsafat berisikan pemikiran-pemikiran mengenai masalah-masalah yang pengetahuan definitif tentangnya, sampai sebegitu jauh, tidak bisa dipastikan;namun, seperti sains, filsafat lebih menarik perhatian akal manusia daripada otoritas tradisi maupun otoritas wahyu.

Sebagai awal untuk memulai membedah filsafat, aku masih memulai dengan aspek etimologi dan definisi-definisi dari berbagai para ahli di bidangnya. Posting-posting selanjutnya aku tidak akan membahas tentang filsafat, karena aku bukan dibidangnya, melainkan secara bebas akan menulis dialektika tentang apa-apa yang merupakan coretan-coretan isi hati yang paling dalam. Karena dari definisi diatas filsafat tidak lain mengarah kepada keberadaan jati-diri manusia yang bersemayanm dalam hati (entah apa penyebutannya) manusia.

Sekian dulu….

Posted in filsafat | Tagged , | Leave a comment