Berperilaku Takwa

Hari ini adalah hari masuk dalam hitungan hari  Jum’at,  Jam 00.58 WIB, 02 Maret 2012. Aku terbangun untuk menulis sebuah coretan yang tergelar dari hati sanubariku.

Dalam peralihan antara sadar dan tidak sadar, aku berguman hidup ini sebenarnya mencari apa, untuk apa, dan mengapa kita diberi hidup dan berkehidupan dalam dunia ini. Kalau kita hanya memenuhi hasrat hidup dengan mencari penghidupan melalui berbagai cara untuk pemenuhan hasrat itu semua, tidak akan pernah ada akhir kepuasan yang telah pernah dicapainya. Pada umumnya manusia banyak tertuju untuk memenuhi semua hasrat keduniawian seperti mencari Kekayaan duniawi, Kedudukan duniawi, Pengakuan duniawi dan lain sebagainya yaitu semua  hal yang berbau materialistik. Untuk mendapatkan semua tujuannya, segala daya upaya dilakukan, mulai hal yang paling mudah sampai kepada hal yang paling rumit. Atau bahkan termasuk membangun kelompok-kelompok kepentingan harus dilakukan, agar cara-cara pemenuhan hasrat duniawi bisa diatur dengan mudah, karena pada jaman ini manusia banyak terjerat dengan “Pendapat mayoritas adalah sebuah kebenaran”.

Manusia didunia ini oleh Tuhan YME, diberi kewenangan untuk memilih apa-apa yang akan dijalaninya. Semua jalan yang akan dituju selalu akan berpasangan, yaitu kekiri atau kekanan. Manusia pada umumnya enggan untuk mundur kebelakang, karena kaki kita lebih nyaman untuk dilangkahkan kearah depan. Ini merupakan sebuah perlambang, bahwa dalam melangkahkan kaki haruslah kita berpikir secara jernih apa-apa yang akan kita pilih sebagai langkah menuju kedepan kita. Sebab kalau salah memilih, pasti akan enggan melangkah mundur, sementara semakin melangkah akan semakin banyak membuat kesalahan. Itulah hidup didunia, karena hidup didunia ini adalah sebagai wujud dari “Sang Pengembara” menapak mencari jalan untuk menemukan dimana kita berasal.

Kembali kepada pilihan didalam melangkahkan hidup, saya lebih suka menggambarkan dengan analogi seorang pengembara yang mencari sebuah rumah yang dahulu  pernah ditinggalinya. Sang pengembara hanya berbekal kepada satu tanda-tanda fisik yang ia ingat yaitu wujud atau bentuk rumahnya. Selanjutnya sang pengembara bertanya kepada orang pertama yang ditemuinya, setelah diberi petunjuk dijalani petunjuk tadi dengan harapan dapat langsung menemukan rumah yang dimaksud. Dengan kecewa ternyata rumah yang dicari tidak dapat ditemukannya, karena bentuk rumah yang ditemuinya tidak sesuai dengan tanda-tanda yang diingatnya.

Dicobalah bertanya kepada orang kedua yang ditemuinya dengan harapan akan berhasil ditemukannya. Juga atas petunjuknya dilakukan upaya pencarian sebagai wujud usaha keras yang harus dlakukannya, alhasil rumah yang yang dijumpainya tidak seratus persen sama dengan tanda-tanda fisik yang diingatnya. Karena tidak puas dengan tanda-tanda dari wujud rumah tidak seratus persen sama, kembali sang pengembara mendapatkan kekecewaan yang kedua kalinya. Juga harapan demi harapan tidak kunjung terwujud, bahkan semakin menuai kekecewaan.

Kemudian dicobanya kembali bertanya kepada semua orang dalam satu waktu, dengan harapan jika banyak orang dimintai penjelasannya akan semakin cepat dan tepat menemukan rumah dengan tanda-tanda fisik yang akan dijelaskannya. Dicobalah menanyakan kepada satu, dua, tiga dan empat orang, alhasil tidak memberikan kepuasan, sebab keempat orang memberikan jawaban yang tidak sama, dan semakin membingungkan. Dengan berbekal penjelasan yang membingungkan, sudah barang tentu tidak ada usaha yang bisa dilakukan untuk mencari rumah yang dimaksud.

Sang pengembara sempoyongan dengan kekecewaan yang semakin berat, semua harapan sirna, bahkan putus harapan untuk dapat menemukan rumah yang pernah ia tinggali. Untuk meluruhkan kepenatan dan kekecewaan, sang pengembara mencari tempat teduh untuk beristirahat. Ditemukanlah sebuah sungai besar, dengan penuh pohon pisang disekitar sungai. Berbaringlah sang pengembara dibawah pohon pisang, tidak disadarinya hingga terlelap tidur. Dari terbangun tidur, antara sadar dan tidak sadar, serasa ingat sesuatu bahwa dahulu juga pernah terlelap ditempat yang sama ketika sedang merumput untuk memberi makan kambing kesayangannya. Terbukalah satu demi satu ingatan-ingatan yang lalu, terkait satu demi satu, sehingga mendapatkan kesimpulan rumah yang dicarinya tidak jauh dari tempat yang ia terlelap tidur.

Namun kali ini sang pengembara, tidak lagi berpatokan kepada tanda-tanda fisik wujud rumah yang akan dicarinya, melainkan membuka hati-nuraninya untuk merasakan apa yang seperti dirasakan dahulu ketika pulang sehabis bekerja mencari rumput. Kali ini digunakan tanda-tanda alam sebagai penuntun jalan untuk mendapatkan rumah yang ia maksud. Dengan sabar dan ihlas ia mengingat-ingat dengan pikiran yang jernih, walaupun jalan sedikit berubah wujud namun tidak jauh dari alur yang dahulu dijalaninya. Akhirnya ditemuinya sebuah rumah, namun berbeda dari tanda-tanda fisik yang diingatnya. Kali ini, tidak mendapatkan kekecewaan karena sangat yakin rumah inilah yang pernah ditinggalinya. Semakin menambah keyakinan , ketika melihat sebuah selokan kecil  dikiri rumah itu, dikala itu pernah jatuh dan luka memar  ketika sedang bermain-main dengan teman sebayanya.

Sang pengembara mencoba memasuki rumah yang tidak berpagar, didepan pintu mencoba mengucapkan salam, agar sang penghuni rumah keluar menemuinya. Beberapa salam yang diucapkan, tidak membuat penghuni rumah keluar menemuinya. Dicobalah untuk mengetuk pintu, sontak terkaget ternyata tangan tidak dapat mengetuk pintu karena kayu pintu dapat tembus.  Dengan penasaran, siapa saya mengapa tidak dapat mengetuk pintu. Namun dengan berbekal yakin dan ihlas masuklah kedalam rumah dengan menembus pintu kayu, begitu masuk kamar dia melihat dirinya terlelap di ranjang kamar depan. Kontan seakan dia tersedot kedalam tubuh diranjang, dan terbangun dipagi hari menjelang subuh dengan rasa segar namun dengan penuh keheranan apa gerangan yang telah terjadi seakan mimpi seperti nyata. Kembali terbangun membuat pikiran aktif kembali, namun tidak dapat merasakan kembali secara untuk apa-apa yang telah terjadi dalam mimipinya. Secara samar-samar semua dapat dirasakan walaupun tidak sama keadaannya saat dalam mimpinya.

Demikianlah pula dengan hidup dan kehidupan kita semua, seakan seperti usaha untuk mengupayakan mimpi menjadi kenyataan. Dari paparan diatas semua perbuatan harus dilakukan dengan ihlas dengan berlandaskan cerminan hati yang bersih dengan kekuatan pikiran yang dimiliki kita. Dengan takwalah semua perjalanan hidup kita bisa kita arungi dengan selamat karena hakekat TAKWA menurut saya adalah:

Tumindake Asaking Kawedaran ing Wadine Ati

Kita semua sebenarnya belum tentu mengetahui dan menyadarinya setiap gerak-langkah yang dilakukan dalam berkehidupan di dunia ini, sebenarnya siapa yang menggerakkan. Terbukti ada yang disadarinya, ada pula yang tidak disadarinya. Selain Tuhan Yang Maha Kuasa, pada diri manusia juga ada yang menguasainya, untuk mengajari bagaimana badan kasar manusia agar berbuat sesuai azas kebenaranNya. Terbukti juga bahawa manusia cenderung mencari dan berpihak kepada kebenaran yang hakiki. Oleh karena itu biasakanlah segala perbuatan merupakan gelaran dari hati yang paling dalam, dilahirkan dari tangan dan pikiran kita sendiri, dilandasi dengan keihlasan berbuat. Dengan demikian kita akan mendapatkan apa sebenarnya kebenaran itu, dengan belajar berperilaku Takwa, karena mencari kebenaran itu sama dengan perilaku sang pengembara yang dijelaskan diatas, untuk mencari siapa jati-dirinya, sehingga diperoleh ketenangan hidup yang akan berbuah  kebahagian baik didunia (alam nyata – LOVE) maupun di akherat (alam kasat nyata – love).

Sekian posting saya akhiri, karena jam telah menunjukkan  jam 03.25.

 

 

Last updated by at .

Avatar of Bambang Siswoyo

About Bambang Siswoyo

I am a college lecturer since 1988 at UB (University of Brawijaya) in the electronics department. My experience: Applications of Microprocessor system, Applications of Control System, Applications of Field Programmable Gate Array, Computer Programming in computer instrumentations. My hobby: Music especially playing the saxophone, hiking and exploring the countryside.
This entry was posted in filsafat and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title="" rel=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>