Cipta Rasa Karsa: pernahkah anda mengetahui keberadaannya ?

Cipta Rasa Karsa, sebuah istilah yang pernah dimunculkan di negara kita . Juga pernah dilontarkan oleh Founding Father Negara Indonesia, Soekarno, bahwa sebagai Manusia Indonesia Seutuhnya dalam berkehidupan haruslah Selaras, Serasi dan Seimbang (3S) antara Cipta, Rasa dan Karsa. Juga hal ini pernah diajarkan oleh bapak guru kita sejak saya masih di SMP, sekitar tahun 1976-1978 dalam mata pelajaran Civic. Waktu itu saya telan pelajaran itu sebagai hapalan belaka, yang sudah barang tentu tidak mengetahui apa makna hakekat yang terkandung didalamnya.

Namun pada jaman sekarang istilah ini telah menjadi istilah biasa saja bahkan ketenarannya dikalahkan dengan istilah-istilah gaul anak muda. Atau bahkan hilang ditelan oleh jaman, menjadi hilang apa makna hakekat yang terkandung yang seharusnya dipahami apa hakekat didalam istilah itu. Memang sulit untuk dipahami, karena istilah ini sebenarnya berkenaan dengan esensi manusia itu sendiri. Yang saya maksud sebagai esensi manusia dalam hal esensi yang bersifat kasat mata.

Dalam penjabarannya, istilah ini banyak dikait-kaitkan dengan istilah-istilah yang ada dalam Agama-agama dimuka bumi ini. Pembahasan dijabarkan sesuai dengan kitab-kitab agama, namun sangat jarang dikaitkan keberadanaannya dalam esensi jatidiri manusia itu sendiri yang didasarkan pada fakta nyata didalam kehidupan sehari-hari. Atau bahkan hanya terjebak dengan istilah-istilah saja, tidak pernah menyentuh dimana keberadaanya, bagaimana proses terjadinya, apa hubungan diantara ketiga istilah tersebut, serta apa peranannya dalam jati diri manusia, dan lain sebagainya, sehingga ujung-ujungnya akan mengaburkan istilah itu sendiri.

Istilah Cipta Rasa Karsa, merupakan istilah yang sederhana terkesan jadul, dan enggan untuk dibahas tentang apa sebenarnya sebagai perwujudannya. Perwujudan yang dimaksud bukan suatu perwujudan dalam bentuk nyata, melainkan keberadaannya dalam bentuk penomena-penomena yang nyata adanya yang bisa dirasakan keberadaannya.

Keberadaan bulan dimalam hari, tidak akan tampak nyata perwujudannya, tanpa adanya sinar matahari yang menyinari bulan. Namun dalam penomena bulan terlihat dimalam hari, sekaligus sebagai perwujudan adanya Matahari dan Bulan dalam bentuk perwujudan sebagai penomena, tidak dalam artian perwujudan fisik. Begitulah kira-kira perwujudan dari Cipta Rasa dan Karsa.

Terkait istilah Cipta, Rasa, Karsa dimana keberadaannya ada dalam jatidiri manusia, berikut ini saya kutip dari berbagai sumber yang menjelaskan apa pengertian dan definisi manusia menurut beberapa ahli:

  • NICOLAUS D. & A. SUDIARJA
    Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang
  •  NICOLAUS D. & A. SUDIARJA
    Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang
  • ABINENO J. I
    Manusia adalah “tubuh yang berjiwa” dan bukan “jiwa abadi yang berada atau yang terbungkus dalam tubuh yang fana”
  •  UPANISADS
    Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana atau badan fisik
  • SOKRATES
    Manusia adalah mahluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu dengan kuku datar dan lebar
  • KEES BERTENS
    Manusia adalah suatu mahluk yang terdiri dari 2 unsur yang kesatuannya tidak dinyatakan
  • I WAYAN WATRA
    Manusia adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan karsa
  • OMAR MOHAMMAD AL-TOUMY AL-SYAIBANY
    Manusia adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir, dan manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan

 Dalam setiap perjalanan hidup manusia, sebenarnya didorong oleh tiga kekuatan nyata yang diapat kita rasakan yang disebut dengan Cipta, Rasa dan Karsa. Oleh karena itu kita perlu mengenalnya terlebih dahulu melalui proses penggalian jati-diri dari berbagai hal dan cara.

Cipta

Cipta bisa diartikan sebuah proses pengupayaan untuk mewujudkan sesuatu yang belum ada menjadi nyata.  Cipta  pada dasarnya sebuah kekuatan pada diri “Manusia”  terhadap segala sesuatu yang bersifat untuk mewujudkan sesuatu menjadi  nyata.  Cipta memiliki kekuatan tersendiri atau independent atau merupakan inner power yang Tuhan YME berikan kepada manusia sebagai pembeda dari mahluk-mahluk lainnya. Dengan demikian bisa merupakan sebuah kekuatan yang dapat berjalan  sendiri karena merupakan energi. Cipta pada dasarnya secara lihiriyah (dapat diraba) bersemayam dalam otak manusia, dalam kepala manusia dengan segala perangkatnya berupa sensor-sensor motorik yaitu: mata, telinga, hidung dan mulut. Melalui keempat pintu inilah dapat mempengaruhi proses penciptaan yang dilakukan manusia, menuju kepada proses penciptaan yang baik maupun yang buruk. Sebenarnya selain ada dalam otak manusia, cipta bisa juga berada ditempat lainnya, sudah barang tentu ada pada bagian-bagian pada diri manusia bersifat kasat mata.

Rasa

Rasa secara arti kata merupakan hasil atau tanggapan dari sistem sensorik yang dapat merasakan sebuah kondisi-kondisi tertentu baik secara fisik maupun non-fisik. Hasil tanggapan merupakan sebuah nilai-nilai empirik yang kemudian dinyatakan secara visual, ucapan, perbuatan dan lain sebagainya. Sebagai contoh, pada saat manusia merasakan hawa dingin pegunungan disaat berkemah, karena tidak biasanya sedingin ditempat tinggalnya, setelah merasakan akan menghasilkan sebuah tata-nilai secara empirik baik secara visual, ucapan ataupun perbuatan. Demikian pula bila merasakan sedapnya makanan, maka akan timbul sebuah reaksi yang merupakan rasa dengan nilai empirik yang berbeda antara manusia-manusia lainnya, walaupun merasakan resep makanan yang sama. Muncullah keberagaman pendapat yang juga merupakan rasa sebagai reaksi atau tanggapan dari masakan yang dirasakan, muncullah suka, biasa, amat suka, favorit. Disinilah letak keberagaman manusia, sehingga muncullah yang namanya rasa secara nisbi atau relatif dan rasa secara hakiki.

Karsa

Karsa secara arti kata dapat diartikan sebagai kehendak yang ada pada diri “Manusia”, juga merupakan sebuah kekuatan tersendiri yang Tuhan YME berikan kepada manusia sebagai pembeda dari mahluk-maluk ciptaNya yang lain. Karsa sangat lekat sekali dengan kaitan proses untuk bergerak, beraktifitas atau bereaksi untuk berupaya mewujudkannya. Salah satu contoh bila perut kita “terasa” lapar, yang merupakan hasil dari merasakan dari sensor-sensor motorik, maka akan bisa berlanjut menjadi “Karsa” secara langsung tanpa didahului oleh “Cipta”. Bergerak langsung ingin mewujudkannya dengan segala cara mulai dari yang baik, sampai dengan terjerumus menjadi hal-hal yang tidak baik. Sekali lagi “baik” juga sebagai hasil dari perwujudan “Rasa” yang juga sangat-sangat relatif penilaiannya.

Bapak Pendiri Bangsa Indonesia yang juga soko guru bangsa pernah diucapkan bahwa untuk menjadi manusia indonesia seutuhnya haruslah Selaras, Serasi dan Seimbang antara “Cipta”, “Rasa” dan “Karsa”, sehingga dapat mewujudkan kekuatan yang sangat dahyat guna “Memayu Hayuning Buwana”.

Sekian dulu posting saya, dilain kesempatan akan diposting juga ulasan tentang kenyataan hidup yang berkenaan dengan topik ini.

 

AKU

AKU TERLAHIR ATAS KEHENDAKMU YA ALLAH SANG PENGUASA ALAM
CIPTAKU, ENGKAU SEMAYAMKAN DALAM PIKIRANKU
RASAKU, ENGKAU SEMAYAMKAN DALAM HATIKU
KARSAKU, ENGKAU SEMAYAMKAN DALAM TUBUHKU
KAU LENGKAPI SEMUANYA DALAM SATU KESATUAN MENJADI AKU
AKU, ENGKAU SEMAYAMKAN DALAM ROH DIDALAM TUBUHKU
ROH DALAM TUBUHKULAH YANG MENERANGI, MENGAYOMI, MELINDUNGI……
SETIAP JENGKAL YANG KULANGKAHKAN ATAS IJINMU YA ALLAH.

TERNYATA…………….
AKU ADALAH HAMBAMU YANG DIGERAKKAN OLEHMU
SESUAI KEHENDAK ROH DALAM TUBUHKU

JADI AKU…………….
HANYA BISA MENCIPTA DALAM PIKIRANKU DALAM SUASANA RASA….
HATIKU DAN BERBUAT ATAS KARSAKU MELALUI GERAKAN TUBUHKU INI
SEMOGA APA YANG AKU PERBUAT BERADA DALAM JALANMU DAN……
KEHENDAKMU YA ALLAH

AMIN YA RABBAL ALAMIN

Last updated by at .

Avatar of Bambang Siswoyo

About Bambang Siswoyo

I am a college lecturer since 1988 at UB (University of Brawijaya) in the electronics department. My experience: Applications of Microprocessor system, Applications of Control System, Applications of Field Programmable Gate Array, Computer Programming in computer instrumentations. My hobby: Music especially playing the saxophone, hiking and exploring the countryside.
This entry was posted in filsafat and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title="" rel=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>