Dua belahan cinta berlabuh

Title: Integrity of the two hemispheres of love
This post is a reflection of my heart, not from any adaptation. If any same nature, it is because we have the same heart and are in the same world. Sorry this article was written in Indonesian, for the sincerity of the writing.

Hari ini selasa 20/Desember/2011 aku terbangun dini hari jam 3.50WIB. Segar rasanya, namun aku terdiam seakan ada yang perlu aku ungkapkan dalam bentuk dialektika. Sebenarnya saat itu terlintas dalam hati saya tentang kata “Love”, sepercik hati menggugah bahwa sebenarnya didalam berkehidupan harus disandarkan pada kata “Love”. Karena “Love” saya terbangun kembali pada keadaan yang sama untuk melakukan kegiatan-kegiatan sehari-hari.

Didalam dadaku yang mulai menghangat karena aku terbangun, sepercik hati juga menggugah….”Love” tak akan kawedar (tergelar) tanpa berlabuh di dua sisi.

Disini aku memberikan judul “Dua Belahan Cinta Berlabuh”, bahwa cinta sesungguhnya yang akan abadi adalah dua belahan cinta yang tertangkup menjadi seutuhnya. Bukanlah cinta satu belah saja melainkan keduanya, menyatu menjadi cinta yang sesungguh.

Hmm….aku mencoba tetap bertahan dengan meredam semua akal-pikiranku, agar dadaku tetap terjaga dan aku mencoba untuk menangkap alam bawah sadarku dengan saksi akal-pikiranku. Aku mulai mencoba untuk menjlentrehkan secara sistimatis sesuai dengan pengalaman hidup yang aku jalani saat ini. Aku memang sering menyadari bahwa disetiap lini kehidupan selalu berbarengan dua sisi yang saling bertangkup, seperti Pria-Wanita, Siang-Malam, Marah-Sabar, AKu datang Kau hadir, Tegur dan Sapa, dan lain sebagainya. Dimana keberadaan salah satunya dikarenakan oleh keberadaan lainnya. Aku memandang Kau dari Aku, Aku Kau pandang dari Engkau. Boleh dikatakan makna ini adalah saling berbalas wujud tanpa ada putus hubungan, satu mati maka matilah semuanya. Inilah yang disebut dengan pemaknaan “Cinta” atau “Love” yang sesungguhnya.

Masih pagi hari….aku bergumam, dan memiliki pemikiran yang agak berbeda, bagaimana kalau aku menerawang untuk memandang masa kecilku. Anggap sosok manusia masa kecilku adalah orang lain. Kan bisa karena masa laluku bisa aku anggap adalah sosok lain, ini memang agak aneh menurut akal-pikiranku.

Ternyata aku masih bisa mengingat masa kecilku dalam batas tertentu, yaitu saat aku digendong sekitar berumur 3th, sebelumnya aku tidak bisa menyadari dan mengingatnya.

Bagaimana dengan aku sebelum berumur 3th, sadarkah aku dengan keberadaanku saat itu ?

Jawabannya, aku tidak tahu entah apa yang terjadi saat itu. Sepertinya umur 3th sebelumnya adalah aku yang telah hilang dan aku tidak mengenalnya. Karena ini masih berada dalam ranah dunia, semuanya masih bisa diperbincangkan dengan segala aspek kenyataan yang ada, karena  semua orang didunia ini pasti mengalaminya.

Bagaimana dengan anda cobalah mengingat, sejak mulai kapan anda dapat mengenal diri anda sendiri.

Maksudnya, aku coba untuk bisa mengkaji dengan pemikiran terdalam mengenai perjalanan manusia sejak didunia yang memang merupakan platform kehidupan untuk bisa disadari, daripada aku biarkan begitu saja tanpa ada sepercik pemikiran apapun.

Bukankah kita semua adalah mahluk manusia dipenuhi dengan tanggung jawab dengan aspek kesadaran dalam setiap langkah hidupnya ?.

Bak, kita sedang berjalan menelusuri setiap jengkal jalan dengan kaki kita, diperlukan sebuah kesadaran diantara semua komponen tubuh tentang keberadaan kita dalam perjalanan itu. Baik semua panca indera, bagian-bagian motorik tubuh, juga diajak sesadar-sadarnya tanpa adanya pemaksaan dengan kaidah selaras, serasi dan seimbang (3S). Bila salah satu komponen tubuh sedang tidak dalam keadaan 3S maka hendaklah perjalanan ditangguhkan sebentar untuk mendapatkan kembali kondisi 3S itu. Dengan demikian kita dapat memiliki aspek kesadaran penuh dalam setiap langkah kehidupan nyata ini.

Karena “Cinta” adalah sebuah kaidah dasar antara dua wahana yang saling tertangkup, aku mencoba menelaah kata yang sudah dikenal diseluruh dunia ini yaitu “LOVE”. Seperti yang aku tuliskan diatas, “LOVE” tak akan pernah kawedar bila  tidak ada dua sisi untuk berlabuh. Untuk itu aku mencoba memberanikan diri untuk membuat dua arti singkatan “LOVE” ini menjadi:

 

Learning Overall in Virtual spaces Existence — love

Learning Overall from Virtual spaces Existence — LOVE

 

Untuk membedakannya aku singkat dengan huruf kecil dan huruf besar, yang menandakan huruf kecil adalah cinta berlabuh dialam anak-anak, dan huruf besar cinta berlabuh dimasa dewasa.

Aku mencoba menggambarkan salah satu contoh “dua belahan cinta” yang secara nyata terjadi dihadapan kita dalam kesehariannya. Atas nama cinta, dipastikan sesungguhnya terbelah menjadi dua dalam tempat yang berbeda. Terjadinya cinta sesungguhnya, dikarenakan dua labuhan cinta ditempat berbeda bertemu dan bertangkup menjadi satu kesatuan yang utuh, ya itulah cinta yang sebenarnya. Dimana ada cinta, pasti ada “Dua belahan cinta berlabuh”.

Disini saya mencoba menguraikan seandainya ada sosok manusia, yang didalam perjalan hidupnya tetap tegar sampai menjadi sosok manusia dewasa.  Sudah dipastikan tanpa adanya cinta, tidak mungkin sosok manusia tersebut sampai kepada usia dewasa. Sudah pastilah, kisah perjalanannya dilandaskan kepada cinta, cinta memelihara hidupnya, cinta mencari penhidupannya, cinta berkomunikasi antar sesama, begitulah seterusnya. Pada illustrasi gambar diatas, digambarkan sosok manusia yang sudah dewasa, sebenarnya dalam perjalanan hidupnya menuju kedewasaan sejak dilahirkan akan melewati dua keadaan yang sangat berbeda. Sisi kanan dan sisi kiri terdapat garis pemisah, dimana memiliki alam kemanusiaan yang berbeda. Sisi kanan adalah  “Virtual” spaces Existence” dengan garis pemisah kapan  kita tidak  dapat mengingat waktu masih anak-anak. Sisi kiri adalah sisi dunia nyata orang dewasa, dimana sudah dilengkapi pancaindera secara sadar dan otak sudah bekerja dan digunakan.

Disebelah kanan artinya, pada saat itu adalah berada pada ruang waktu yang tidak bisa ditembus sekalipun oleh pancaindera kita, ruang waktu itu saya menyebutnya sebagai: “Virtual spaces Existence”, ini adalah sebuah istilah bebas, menurut saya. Saya katakan sebagai virtual karena kitapun tidak bisa mengetahui alam kesadaran saat itu, padahal itu sama-sama berada didunia ini.

Learning Overall in Virtual spaces Existence

Dalam istilah saya menyebutnya sebagai: “Belajar secara keseluruhan didalam keberadaannya ruang virtual”. Ini terjadi pada kurun waktu sebelum kita mulai lupa mengingat masa kanak-kanak kita. Artinya kita berada disebelah kanan, semua perilaku anak-anak tidaklah dikendalikan oleh akal-pikirannya, buktinya sang pelaku sendiri tidak bisa mengingat dirinya sendiri.

Nah, disinilah semua gerak-gerik, tingkah-laku dan lain-lainnya dilakukan atas suasana ruang virtual itu. Orang jawa mengatakan, anak-anak bermain dengan amongnya (pengayom virtualnya). Disitulah keberadaan sang pengayom sejati, yang telah dititipkan dan dititahkan oleh sang pencipta kedalam tubuh manusia. Dikatakan bahwa dunia anak-anak adalah dunia lugu, tampil apa adanya dan bukan ada apanya, serta dunia anak-anak dikatakan serba ekpresi kejujuran. Namun dalam keberadaannya di daerah ini (sebelah kanan), anak-anak juga belajar mengintip daerah dibaliknya (sebelah kiri). Makanya dikatakan anak-anak belajar secara keseluruhan tentang lingkungannya didalam “Virtual spaces Existence” nya. Ibarat dia berada dirumahnya sendiri, namun dia belajar dengan mengamati atau mengintip dunia tetangganya (sebelah kiri). Siapa ?, minimal anak-anak belajar mengenal siapa Bapak dan Ibunya. Ini ditandai dalam illustrasi sebagai garis merah putus-putus menuju ke kiri.

 Learning Overall from Virtual spaces Existence

Dalam istilah saya menyebutnya sebagai: “Belajar secara keseluruhan dari keberadaannya ruang virtual”. Ini terjadi pada kurun waktu sesudah kita mulai  mengingat masa kanak-kanak kita. Artinya kita berada disebelah kiri, semua perilaku kita sudah mulai dikendalikan oleh akal-pikiran, buktinya kita sebagai pelaku sudah mulai mengingat keberadaan kita sendiri.

Disini gerak-gerik, tingkah laku dan lain sebagainya secara normatif akal-pikiran mulai mengendalikannya. Disini perlunya agar mendapatkan “LOVE” yang sebenarnya, perlu kiranya belajar secara keseluruhan dari ruang virtual. Jika ini dilakukan sama dengan mulai berproses menjadi orang dewasa dengan mengkaji dirinya sendiri, diketahuinya secara sadar siapa diri sebenarnya. Oleh karena itulah, pada saat ini kita diwajibkan untuk mempelajari ilmu.

 Posting ini pastilah akan dapat membuka dialektika-dialektika baru dengan berbagai cabang topik. Namun saya cukup mengakhiri sampai disini saja tentang topik LOVE dari dua belahan, dan intinya cinta sejati harus merupakan tangkupan dari dua belahan cintyang oleh sang pencipta memang dipisahkan oleh garis pemisah yang tidak langsung saling bertemu sebelum adanya usaha dari dirinya sendiri.

Untuk serpihan topik yang lain akan diposting di judul yang lainnya.

Semoga bermanfaat untuk kita semua sebagai wawasan menjalankan hidup dengan penuh cinta.

Last updated by at .

Avatar of Bambang Siswoyo

About Bambang Siswoyo

I am a college lecturer since 1988 at UB (University of Brawijaya) in the electronics department. My experience: Applications of Microprocessor system, Applications of Control System, Applications of Field Programmable Gate Array, Computer Programming in computer instrumentations. My hobby: Music especially playing the saxophone, hiking and exploring the countryside.
This entry was posted in filsafat and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title="" rel=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>