Belajar dari dunia anak-anak

Title: Learning from the world of children
This post is a reflection of my heart, not from any adaptation. If any same nature, it is because we have the same heart and are in the same world. Sorry this article was written in Indonesian, for the sincerity of the writing.

 Posting kali ini merupakan serpihan dialektika dari posting tentang Dua belahan cinta berlabuh. Namun aku menyoroti manusia yang berada disisi kiri atau “Learning Overall from Virtual spaces Existence” — LOVE  — disebut sebagai “Pembelajar”. Sedangkan obyek yang dipelajari adalah dunia anak-anak, berada disebelah kanan berada dalam “Virtual spaces Existence”.

Pernahkan kita mengamati secara seksama tentang dunia anak-anak ?

Pertanyaan ini dilontarkan, karena tidak semua orang bisa mengerti tentang dunia anak-anak, apalagi memaknai lebih dalam apa sebenarnya dunia anak-anak itu. Bahkan diberbagai belahan dunia para pasutri sudah pasti pernah memiliki anak yang merupakan citra dari dirinya sendiri, karena ini adalah proses kehidupan secara alamiah yang harus terjadi. Akan tetapi belum tentu semua para  orang tua yang memiliki anak-anaknya mengerti, apalagi dapat menyelami dunia anaknya sendiri.

Dunia anak merupakan sebuah “ekpresi kejujuran”, dimana semua perilaku didalam sosialnya berjalan secara alamiah. Sudah barang tentu hal itu terjadi jika si anak-anak tetap berada pada sisi “Virtual spaces Existence”, yang ditandai adanya wajah polos. Sebagian orang kepolosan wajah anak-anak, menganggapnya sebagai wajah “bodoh”, “dungu”, itulah awal dari kesalahan persepsi terhadap dunia anak-anak. Ironis memang, kepolosan anak dianggap sebuah kedunguan, yah sudah barang tentu itu karena ketidak mampuan sang “Pembelajar” untuk dapat menembus dunia anak-anak yang memang berada dalam “Virtual spaces Existence”. Mengapa demikian, karena sang “Pembelajar” cara menembus dunia anak-anak masih menggunakan dunianya sendiri yaitu dunia orang dewasa, sudah barang tentu tidak akan ada link and match diantara keduanya. Karena para “Pembelajar” yang notabene berada disebelah kiri yaitu “LOVE”, haruslah menggunakan menengok kedaerah “love” yang juga ada pada diri sang “Pembelajar”. 

Karena ada pepatah, untuk mengetahui dunia anak-anak, masuklah kedaerah anak-anak, bukan menjadi anak-anak. Maksudnya masuklah kedaerah “Virtual spaces Existence”, dengan demikian akan terjalin antara LOVE + love tertangkup menjadi satu yaitu jalinan cinta mengerti dunia anak-anak. Sebenarnya ini adalah wahana pembelajaran bagi orang dewasa untuk bisa mengerti tentang jati-dirinya, karena sebelumnya pernah menjadi anak-anak, namun dikala itu sang “Pembelajar” tidak d.apat memaknai bahkan mengerti tentang dirinya sendiri.

Jangan usik dunia anak-anak……

Kalau anda terbiasa mengamati dunia anak-anak dikala sedang bermain-main, baik berkelompok maupun sendiri, kita dapat menikmatinya tentang kepolosan, keluguanya. Entah mengapa, jujur saja, kalau benar anda dapat menembus “Virtual spaces Existence”nya , anda seakan dapat menikmati keindahan, ketentraman dunia anak-anak.

Mengapa demikian ?

 ”Virtual spaces Existence”, itu adalah dunia Tuhan yang dititahkan kepada manusia sejak berada dalam rahim ibu. Penitahan itu adalah sebagai bagian dari belahan Cinta Tuhan kepada manusia, sedangkan belahan cinta lainnya adalah diluar diri manusia yaitu Dunia nyata yang kita tempat. Demi kesucian dan kemuliaan dari “Virtual spaces Existence”, oleh Tuhan diletakkan secara maya, orang mengatakan berada dilubuk hati yang pang dalam, atau cara pengungkapan lainnya.

Kembali kedunia anak-anak. Anak-anak yang masih belum beranjak dewasa, kebanyakan dunia anak-anak masih berada pada daerah “Virtual spaces Existence”nya. Dunia ini identik dengan kepolosan, keluguan, kejujuran, tampil apa adanya, kalau kita terbiasa dengan dunia anak-anak akan menemukan batas antara masih berada di “Virtual Existence” atau berada diluarnya. Dikatakan dunia anak kecil seperti dunia yang tidak berdosa.

Kapan dikatakan sebagai bukan anak-anak ?

Dunia anak-anak dikatakan sudah bermigrasi menjadi dunia bukan anak-anak, bila sudah secara keseluruhan bermigrasi dari “Virtual spaces Existence” yang berada di kanan menuju ke kiri.

Tanda-tandanya jika sang anak sudah mulai menggunakan akal-pikirannya dalam setiap perilakunya. Oleh karena itu kita sebagai orang tua, harus mengawal, memberikan pembinaan, memberikan contoh kepada anak-anak kita cara berperilaku, bertindak jangan sampai tidak sesuai dengan aturan-aturan yang ada dalam “Virtual spaces Existence”. Secara tertulis aturan-aturan yang ada dalam “Virtual spaces Existence”, dituliskan dalam kitab-kitab Agama yang dibawa oleh para RosulNya.

Namun yang paling penting sebagai manusia yang sudah mulai bermigrasi ke luar dari “Virtual spaces Existence”, hendaklah selalu belajar kembali untuk menengok dunia yang pernah disinggahi dan ditinggalinya.

Kadang orang bijak mengatakan:

Didalam menjalankan berkehidupan didunia ini hendaklah kita selalu menggunakan “Hati Nurani“. Maksudnya saat menggunakan akal-pikiran hendaklah jangan meninggalkan “Hati Nurani”, karena Hati Nurani adalah saudara Tua dari Akal-Pikiran yang kita miliki.

Sekian posting saya

Mudah-mudahan ada manfaatnya.

 

 

Last updated by at .

Avatar of Bambang Siswoyo

About Bambang Siswoyo

I am a college lecturer since 1988 at UB (University of Brawijaya) in the electronics department. My experience: Applications of Microprocessor system, Applications of Control System, Applications of Field Programmable Gate Array, Computer Programming in computer instrumentations. My hobby: Music especially playing the saxophone, hiking and exploring the countryside.
This entry was posted in filsafat and tagged , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Belajar dari dunia anak-anak

  1. habybpalyoga says:

    Salam kenal pak,saya habyb palyoga dari kedokteran hewan UB. Memang begitu pak,kadangkala sifat memaksakan kehendak sering dilakukan orang tua,padahal itu sama sekali tidak ada manfaatnya,malahan merugikan. Saya sebagai anak kedokteran hewan,cukup salut dengan kasih sayang yang diberikan oleh raja hutan. Seganas-ganasnya hewan liar,pasti kelembutan akan timbul jika didekatkan dengan anaknya.

    kunjungi juga :
    http://www.blog.ub.ac.id/habybpalyoga
    http://www.habybpalyoga.blogspot.com

  2. habybpalyoga says:

    iya pak,pasti pak :)
    masalah blog link sudah saya pasang pak,dan bapak orang pertama yang saya pasang di submenu lecture :)
    dan rajin-rajin berkunjung ke blog saya juga pak :)
    makasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title="" rel=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>